Review Film : Justice League

Sunday, December 02, 2018

Have you watched Justice League?


Justice League yang berisikan superhero pertama di dunia yaitu superman ditambah tokoh-tokoh ikonik superhero lain seperti Batman, Wonder Woman, Cyborg, The Flash, dan Aquaman menjadi film yang ditunggu-tunggu para pecinta DC Comic. Sudah sejak lama film legendaris seperti superman, batman dan wonderwoman tayang di bioskop sebagai stand alone movie tanpa satu kesatuan cerita seperti yang ada di komik. Langkah DC yang tertingal oleh marvel dalam membuat cinematic universe, rasa-rasanya membuat DC sedikit terburu-buru dan tidak terkonsep dalam penyusunan cerita film ini. Ya DCEU atau DC Cinematic Universe adalah kesatuan cerita superhero yang coba dibangun oleh DC Comic.

Zack Snyder sang sutradara dalam DCEU ini mencoba membangun sebuah ide besar sebagai kesatuan cerita. Dimulai dengan kemunculan Superman : Man Of Steel (2013), ternyata film ini merupakan pengantar sekuel selanjutnya yaitu Batman vs Superman. Kemunculan Batman yang merasa khawatir akan adanya superman yang mempunyai kekuatan besar tanpa diketahui tujuannya untuk menyelamatkan manusia, membuat Bruce Wayne (Batman) mencari cara untuk menghentikan Superman. Film Man Of Steel dan Batman VS Superman ini sendiri terhitung lumayan dan enak untuk ditonton. Sayangnya, petaka film Justice League ini adalah kekecewaan besar bagi sebagian besar pecinta DC Comic. DC yang terkenal dengan visualisasi dark, alur cerita rumit dan penokohan yang kuat seakan-akan hilang pada film ini. Mundurnya Zack Snyder saat proses produksi akibat meninggalnya sang anak membuat proyek ini goyah. Joss Whedon yang masuk sebagai pengganti Zack Snyder seolah-olah mempunyai konsep cerita sendiri. Whedon adalah sutradara dari film avengers. Nampaknya Warner Bros ingin Whedon dapat menularkan kesuksesannya dalam menyutradarai MCU pada DCEU. Sayang seribu sayang, entah apa yang terjadi pada Warner Bros, DC Comic, Snyder atau pihak-pihak lain yang terkait dengan film ini. Justice League jauh dari harapan, jelas ada perbedaan konsep yang diusung oleh Whedon. Pada akhirnya muncul istilah Snyder Cut dan Whedon Cut dikalangan penikmat DC untuk sekedar menghibur diri jika film ini masih digarap oleh Snyder akan menghasilkan kualitas yang lebih baik. Berikut beberapa kekacauan film ini yang coba gue rangkum :

1. Henry Cavill pemeran Superman dipaksa melakukan shooting ulang untuk keperluan beberapa scene tambahan. Padahal saat shooting selesai, Cavill seharusnya menumbuhkan kumis untuk film yang ia perankan dalam Mission Impossible. Jadilah bad CGI yang menjadi olok-olokan dunia maya terhadap Superman.



2. Superman yang sudah mati dihidupkan kembali tetapi tidak dalam konsep yang seharusnya. Ya dalam komik DC diceritakan Superman mati ditangan Doomsday seperti pada cerita Batman VS Superman, tetapi kesalahan dalam film ini adalah kebangkitan superman seperti dipaksakan terlalu cepat. Ya terlalu cepat. Untuk proses membangkitkan superman melalui mother box gue ga ada komplain. Yang jadi komplain adalah seharusnya superman menjadi “gila” dengan rambut panjang dan kostum hitamnya, padahal di instagram Henry Cavill sendiri pernah menggoda penggemarnya dengan memposting jubah superman berwarna hitam yang membuat fans merasa senang. Akhir-akhir ini muncuk pengakuan dari snyder bahwa memang kosepnya adalah superman memakai black costume tersebut. Akan lebih baik menurut gue jika dalam film ini dibuat kesan akhir yang mengambang, tidak ada kekalahan dari Steppenwolf selaku villain utama tetapi lebih pada pengantar cerita-cerita berikutnya. Ya sebaiknya dalam film ini dibuat seperti di komik, superman kebingungan untuk mecari jati diri dengan penampilan gondrong dan berkumisnya. Dalam film ini, superman memang sempat kebingungan dengan jati dirinya dan berkelahi dengan Batman, Wonderwoman, Aquaman, Cyborg dan The Flash. Parahnya film ini, superman sadar sangat cepat. Inilah yang menimbulkan kekecewaan.




3. Kemunculan The Flash,Aquaman dan Cyborg yang terburu-buru. Bisa dikatakan kemunculan tiga superhero tambahan tersebut terburu-buru. Di dalam film sedikit diceritakan bagaimana the flash mendapatkan kekuatan, begitu pula asal-usul cyborg dan Aquaman. Nah letak kekurangannya adalah ketika The flash ikut bertempur dan ketakutan saat berkelahi. Konyolnya the flash membuat pengakuan ia tak bisa berkelahi dan dengan kekuatan supernya hanya mendorong lawannya. Begitu pula dengan cyborg yang masih kesulitan mengatur kekuatannya. Yang sedikit terselamatkan adalah Aquaman menurut gue, kemunculannya minim kritik. Sebaiknya dalam film ini The Flash dan Cyborg tidak dibuat sekonyol itu, alangkah lebih baik ketika mereka sudah terbiasa dengan kekuatannya masing-masing. Soal bagaimana mereka mengendalikan kekuatan tersebut sebaiknya dimunculkan dalam film mereka masing-masing. Coba lihat film avenger dimana kemunculan black panther tidak perlu perkenalan yang terlalu lama dan tidak dibuat konyol. DC seperti tidak mempelajari keberhasilan marvel.

4. Batman dibuat tak terlalu berfungsi. Ya Batman memang manusia biasa, sosoknya antihero. Manusia biasa yang memiliki kemampuan berbagai jenis beladiri, disertai otak yang cerdas dan juga kekayaan yang membuatnya memiliki peralatan canggih. Banyak scene dimana Bruce Wayne didorong oleh Aquaman, Wonder Woman, dan The Flash yang tidak percaya bahwa kekuatan utama Batman adalah kekayaannya. Tragisnya lagi, di akhir cerita Batman ingin “bunuh diri” dengan berkorban masuk ke sarang Steppenwolf. Padahal dalam cerita sebelumnya Batman berhasil menahan kemampuan Superman. Sosok Batman yang dimunculkan apik di awal seperti runtuh akibat script yang buruk. Gue berharap Batman akan lebih baik pada sekuel berikutnya setelah kemunculannya di Batman VS Superman dan juga Suicide Squad.

5. Superman sentris. Inilah puncak kekacauannya, saat tidak ada Superman seluruh superhero kesulitan untuk menghadapi Steppenwolf. Tetapi setelah kemunculannya, Superman dapat dengan mudah mengalahkan Steppenwolf. Parah banget! Ending yang terlalu dipaksakan. Bahkan sebelum mengalahkan Steppenwolf, ditengah pertarungan Superman sempat pergi ke kota untuk menyelamatkan penduduk satu kota, berbanding dengan the flash yang menyelamatkan satu mobil. Sungguh benar-benar ending yang buruk. Sekali lagi menurut gue, lebih baik di film ini tidak ada villain yang mati, biarkan saja terjadi pertempuran antar superhero tersebut sambil Batman dan Wonderwoman mencari anggota justice league lainnya seperti Green Lantern, Arrrow, Martian Man Hunter hingga akhirnya di film berikutnya mereka bersama-sama mengalahkan Steppenwolf. Jika ingin pembanding, lihatlah Captain America : Civil War, dimana tokoh superhero marvel berkumpul dan bertarung satu sama lain sebelum menjadi sebuah tim yang padu. Dalam civil war tidak diceritakan ada villain yang mati, konflik antar member yang lebih kental.

“You ever heard of Superman? He died fighting next to me.” Batman To Aquaman

Clark Kent: How did you get the house from the bank?”
Bruce Wayne: I bought the bank. All of it.”

Bruce Wayne: The world needs Superman... the team needs Clark. He's more human I am. He lived in this world, fell in love, had a job. In spite of all that power.”

Steppenwolf: No protectors here. No Lanterns. No Kryptonian. This world will fall, like all the others.”

Superman: Well I believe in truth... but I'm also a big fan of justice.”

Well, film ini dibintangi oleh aktor-aktor keren seperti Ben Affleck yang pernah menang Oscar, Henry Cavill, Gal Gadot, Ezra Miller, Ray Fischer dan Jason Momoa. Sayangnya script yang buruk menghambat film ini, begitu juga konsep dari Warner Bros yang terlalu sering memotong durasi film sehingga menimbulkan kebingungan bagi penontonnya. Sebagai fans DC gue hanya bisa berharap film berikutnya yaitu Aquaman dan juga Shazam dapat meningkatkan kembali DCEU.



Salam,
Dony Ariestha

You Might Also Like

0 komentar